Akun Medsos ‘Plat Merah’, Bos Admin Perlu Tahu Keluhan Bawahannya

0
Media sosial
Foto ilustrasi (siarnitas.id) Akun Medsos 'Plat Merah', Bos Admin Perlu Tahu Keluhan Bawahannya

siarnitas.id – Media Sosial saat ini banyak sekali digandrungi oleh para pelat merah untuk mencari sebuah informasi dan juga sebagai eksistensi dalam kinerja para pelat merah tersebut. Apalagi zaman ini yang dimana semua informasi didapat dari media sosial, baik informasi berupa artikel maupun informasi berita.

Namun, disisi lain para admin yang mengelola media sosial tersebut banyak sekali yang mengeluh perihal tugas untuk mengelola akun media sosial para pelat merah. Sebab, admin tersebut diperintahkan mengerjakan semua tugas sendirian, dari merancang, meliput, mendokumentasikan kegiatan lembaga, mendesain, serta menerbitkan konten.

Baca Juga : BNN Tangsel Dorong Pemkot Tangsel Lakukan Deteksi Dini dari ASN hingga Warga Tangsel

Semua kegiatan atasan dan lembaga harus diliput dan segera ditayangkan ke media sosial. Tidak hanya itu, bahkan admin media sosial disuruh beli pengikut sebanyak-banyaknya dan semua satuan kerja (satker) harus punya akun media sosial.

Lantas, apa saja sih keluhan dan tantangan para pengelola media sosial pelat merah? Banyak. Tetapi sebagian besar menilai tantangan utama mereka adalah atasan. Biasalah, dimana-mana, di kantor atau perusahaan apa pun, anak buah mengeluhkan sikap atau kelakuan bosnya. Meskipun bisa juga sebaliknya.

Di lingkungan birokrasi, perintah para atasan yang biasanya dari generasi kolonial nyaris mustahil ditolak anak buah dari generasi milenial, termasuk dalam urusan mengelola media sosial. Padahal perintah itu kerap tidak sejalan dengan “aturan main” di media sosial.

Akibatnya, komunikasi publik melalui media sosial kurang efektif. Para anak buah dilanda “quiet quitting” atau yang biasa disebut berhenti diam-diam adalah istilah dan tren yang muncul pada pertengahan 2022 dari video TikTok yang viral. Filosofi berhenti secara diam-diam bukanlah meninggalkan pekerjaan secara tiba-tiba, tetapi melakukan persis apa yang dituntut pekerjaan itu, tidak lebih dan tidak kurang.

Baca Juga : Mahasiswa Demo DPRD Tangsel, Iwan Rahayu Setuju Tolak BBM Naik

Bagaimana mengatasi tantangan ini? Berikut ini dua hal yang fundamental yang belum dipahami para pelat merah.

1. Bukan perintah atasan yang menentukan efektivitas dan keberhasilan komunikasi publik melalui media sosial, melainkan algoritma.

2. Engagement rate adalah metrik terpenting untuk mengukur keberhasilan komunikasi publik di media sosial.

Apakah para admin pernah menyampaikan dua hal itu ke atasan masing-masing? Jika pernah, bagaimana respon mereka?.

Baca berita dan informasi lainnya dari siarnitas.id di Google News

(bam)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini