Beranda Opini Para Lelaki Tulen dan Para Pejuang Sejati

Para Lelaki Tulen dan Para Pejuang Sejati

538
0

Penulis  : DR.Yoyo Hambali, M.A

Sukarno pernah dipenjara dan dibuang, Sutan Syahrir juga, Hatta pernah dibuang, Tan Malaka hidupnya dari penjara ke penjara, Hamka dipenjara pula. Dan banyak tokoh yg dipenjara atau dibuang dan mereka tahu kasusnya cenderung politis dan bukan kasus kriminal setidaknya menurut keyakinan mereka. Tapi mereka taat hukum, mereka jalani proses hukum, tanpa melibatkan banyak orang, tanpa drama, dsb.

Banyak tokoh yg menerima apa yg mereka alami dengan ikhlas, dengan jantan, dan menjalani proses hukum seburuk apapun pengadilan. Mereka melakukannya demi keyakinannya dan demi perjuangannya. Di antara mereka tak sedikit yang mengisi masa-masanya di penjara atau di pembuangan dengan berkarya. Hamka, misalnya menyusun Tafsir Al-Azhar dalam puluhan jilid.

Para tokoh itu menanggung sendiri penderitaan mereka karena mereka sadar akibat perbuatan mereka yang diyakininya benar akan menghadapi resiko. Mereka tahu dan sadar dizalimi, namun itu harus mereka jalani dan alami sebagai resiko perjuangan. Bahkan bnyak di antara mereka yang memperjuangkan ide-ide dan cita-citanya yg dengan jantan menghadapi hukum gantung atau regu tembak.

Mereka tahu hukuman yg mereka alami bukan kasus hukum, bukan karena mereka melakukan perbuatan kriminal. Mereka adalah musuh dari mereka yg memusuhi. Tapi mereka sadar bahwa itu adalah resiko baginya yg dianggap musuh dari musuhnya. Di antara merekapun namanya abadi hingga kini karena mereka pahlawan, bukan pecundang. Mereka menerima segala resiko itu.

Kalau semua rezim dianggap zalim, para tokoh sejati pada setiap rezim rela menjalani proses hukum sebagai resiko perjuangan bahkan mereka rela mati walau tahu dizalimi.

Bahkan tak sedikit yg dipenjara bahkan dihukum mati tanpa proses pngadilan, namun mereka mnghadapinya dengan kepala tegak tanpa banyak kata dan drama.

Di pengadilan Sukarno dengwn gagah perkasa menyampaikan pembelaan (eksepsi) sebagai satu proses yg harus dijalani di pengadilan meski dia tahu pembelaannya tak akan begitu berpengaruh pada putusan hakim. Sukarno punya ribuan bahkan jutaan pngikut yang karena sangat mencintainya “hidup mati nderek Bung Karno. Namun dia menjalani proses hukumnya dengan gagah perkasa, tanpa berkoar-koar di luar proses hukum dan pengadilan, tanpa melibatkan pengikutnya bahkan ia cenderung mencegah pengikutnya mngganggu proses hukum di pengadilan.

Sukarno tahu dan sadar sesadar-sadarnya bagaimanapun tidak adilnya pengadilan, ia harus mnghormatinya, sebab dia tidak ingin dianggap sebagai orang yg tidak terpelajar, yg tidak beradab, yang tidak tahu tatakrama terutama sebagai orang Timur.

Dia tahu meski pengadilan tidak adil dan tidak layak dihormati, dia tetap menghormatinya: duduk sopan, berbicara bila disuruh berbicara, memanggil para hakim dgn panggilan “Tuan Yang Mulia”, berbicara dgn penuh argumen, tenang dan tanpa emosi.
Dia sampaikan pembelaannya yg abadi hingga kini menjadi sebuah buku, “Indonesia Menggugat”.

Begitulah para tokoh sejati dan terhomat dan karenanya menghormati bahkan kepada musuh-musuhnya. Inilah yang membuat mereka disegani kawan dan lawan. Bukan karena jumlah pengikutnya yang banyak melainkan karena mereka terpelajar, terhormat dan beradab. Dan mereka adalah para lelaki sejati dan pejuang tulen. Wallahu a’lam. Teras rumahku, 28/3/2021.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini