Siarnitas.id – Kabupaten Majalengka memiliki ragam cerita rakyat yang khas, baik dari kisah yang dijadikan sebagai asal dari berdirinya kabupaten maupun kisah kisah kerajaan seperti kerajaan Galuh Taruna dan Talaga Manggung.

Pengamat Film sekaligus dosen Fakultas Teknik Universitas Majalengka Program Studi Teknik Informatika Ade Bastian mengatakan dibalik kisah atau cerita rakyat hampir secara keseluruhan penuh dengan intisari ruh yang mengangkat seorang wanita atau tepatnya seorang wanita dengan intisari ruh “Ibu”.

“Ya, cerita rakyat Majalengka, rata rata menyoal ibu, Nyi Rambut Kasih, Ratu Talaga, Nyai Ronggeng dan banyak lagi,” kata Ade Bastian, Rabu (28/07/2021).

Dari sosok kisah cerita itu, Ade menilai mampu menjadi daya tarik untuk mengangkat sisi ke Majalengka-an tentunya tanpa menghilangkan premis premis budaya lokal lainnya.

“Salah satu film dengan mengangkat ruh ibu sebagai intisari ceritanya kita dapat amati dari film AMBU, kisah ini sangat Memuaskan hati sebagai orang Indonesia. Benar-benar contoh real jika someday ingin mengangkat ruh “ibu” sebagai intisari dari cerita rakyat di Majalengka. Tentunya dengan pendekatan premis yang berbeda. Berlatar di Baduy, film ini tentu menjual adat istiadat dan bukan hanya menjadi tempelan ringan. Berdialog Bahasa Sunda, semakin terasa spesial. Mungkin bentuk “ibu” dan problematika yang lain yang bisa diceritakan mengenai “ibu” Majalengka. Tapi untuk production design, film ini benar-benar bisa menjadi rujukan paling relate,”jelasnya.

Tidak hanya dari segi kisah dan latar cerita, menurutnya ada pesan lainnya yang menjadi soft selling (pesan promosi) hal ini nampak dari setiap adegan yang diperankan oleh tokoh Laudya Chintya dan yang lainnya bersikukuh mengenakan batik khas banten.

“Batik Khas Banten yang dikenakan disepanjang film sungguh indah. Salah satu aspek soft selling yang rapi di film ini,” tutupnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini