Mahasiswa Unpam Dagang Angkringan Adu Mulut Dengan Petugas PPKM

Petugas ppkm
Petugas Satpol PP berseragam watna orange saat menertibkan pedagang angkringan di Pamulang

siarnitas.id – Mahasiswa berdagang angkringan di Jalan Raya Siliwangi, Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) beradu mulut dengan petugas PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) darurat, kemarin (18/7) malam.

Kejadian itu pun direkam dan viral di media sosial di akun Instagram @suara_aktivis dan sudah mendapat ratusan komentar dari netizen.

Diketahui redaksi siarnitas.id, pemilik angkringan itu bernama Shofwan yang saat ini masih berkuliah di Universitas Pamulang.

Shofwan mengatakan, adu mulut terjadi lantaran ia berjualan hingga pukul 21.00 WIB melebihi waktu aturan PPKM. Meski begitu, ia tidak menyediakan dan melayani pelanggan yang ingin makan di tempat.

“Saya dari awal tidak menyediakan fasilitas lesehan atau apapun, tapi delivery atau takeaway. Semua tahu aturannya,” jelasnya kepada petugas Satpol PP yang berpatroli PPKM dengan mengenakan seragam berwarna orange.

Ia menjelaskan, usaha angkringan ini merupakan sumber utama penghasilannya untuk membiayai kuliah selama ini. Apalagi di masa pandemi, ia tifak ingin membebani orangtua.

“Saya buka juga untuk membayar biaya kuliah mas, darimana lagi coba, nggak mungkin minta uang sama orang tua kondisinya lagi sulit,” imbuhnya

Ia juga menyayangkan sikap petugas Satpol PP yang mengenakan rompi orange berbicara dengan nada tinggi ke rekan perempuannya.

“Saya juga kasihan liat temen saya padahal perempuan di bentak-bentak,” ujarnya.

Dalam video itu terlihat petugas bakal membawa pemilik angkringan bila penertiban PPKM yang sempat adu mulut tayang di media.

“Besok kalau naik media, dianya saja bawa,” ucap pria berbaju orange dalam video tersebut.

Debelumnya, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian sudah meminta kepada Satpol PP agar dalam menegakkan aturan harus humanis. Menurutnya, Satpol PP harus menjunjung tinggi kode etik dalam bertugas.

“Jangan samakan Satpol PP dengan preman. Ini baju saja yang keren, tapi etika dan perilaku seperti preman, tidak boleh terjadi. Satpol PP ini adalah suatu profesi yang mulia,” kata Tito dalam keterangan tertulis, Senin (19/07/2021).

Tito menegaskan kepada jajaran Satpol PP agar melakukan pendekatan yang humanis, manusiawi, serta menggunakan bahasa yang santun dalam melakukan penertiban.

“Kita tetap tegas, tapi perlu humanis, manusiawi, bahasa yang santun dan tidak menggunakan kekuatan yang berlebih-lebihan,” tuturnya.

Hingga berita tayang, redaksi siarnitas.id masih berupaya menghubungi pihak Satpol PP Kota Tangsel untuk dimintai keterangannya. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here