Siarnitas.id – Jagat media sosial kembali diguncang oleh video viral yang menyeret nama SMP Negeri 10 Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Sekolah negeri tersebut dituding melakukan praktik infaq wajib selama lebih dari satu dekade dengan dalih pembangunan masjid, tanpa transparansi yang jelas.
Video yang diunggah pada Selasa, 6 Januari 2026, melalui akun Instagram @ericwyn_ itu dengan cepat menyebar luas dan memantik kemarahan publik.
Dalam unggahan tersebut, pemilik akun yang mengaku sebagai alumni angkatan 2014 menuding adanya pungutan berkedok infaq yang bersifat wajib dan masih berlangsung hingga 2026.
“Ada SMP Negeri di Tangsel yang diduga melakukan tindakan pungli lebih dari puluhan tahun. Saya Eric angkatan 2014 dan diduga tindakan tersebut masih terjadi sampai sekarang di tahun 2026. Artinya sudah lebih dari 10 tahun berjalan tanpa transparansi yang jelas,” ucapnya dalam video.
Ia juga menyebut bahwa setiap pagi guru disebut sudah bersiaga di koridor sekolah untuk menagih infaq dengan alasan pembangunan masjid.
Kepala Sekolah Angkat Bicara
Menanggapi viralnya tudingan tersebut, Kepala SMP Negeri 10 Tangsel, Kunardi, akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi tegas untuk meluruskan narasi yang berkembang di masyarakat.
“Saya ingin mengklarifikasi dan mengkonfirmasi supaya ada pemberitaan yang sebenarnya, untuk meluruskan narasi yang sudah mulai beredar,” kata Kunardi kepada redaksi siarnitas.id di kantornya, pada Kamis (8/1/2026).
Ia menegaskan bahwa infaq memang ada, namun tidak pernah bersifat wajib, tidak dipatok nominalnya, dan tidak disertai syarat apa pun.
“Jadi memang infaq ada, tapi orientasinya itu sebenarnya untuk pendidikan karakter. Supaya anak-anak memiliki jiwa sosial, meningkatkan amal jariyah, tapi tidak berorientasi kepada hasil,” jelasnya.
Menurut Kunardi, setiap awal tahun ajaran, pihak sekolah selalu mengundang orang tua siswa kelas 7 dalam rapat resmi.
Salah satu agenda yang disampaikan adalah program sekolah, termasuk rencana pembangunan sarana ibadah.
“Kami menghimbau lewat momen rapat itu. Ayo kita bangun sama-sama, supaya anak kita punya kepedulian, punya jiwa sosial. Tapi lewat infaq, tidak ada yang lain-lain,” tegasnya.
Ia kembali menekankan, memberi silakan, tidak memberi pun tidak masalah.
“Tidak wajib, tidak dipatok, tidak bersyarat. Ngasih monggo, enggak ngasih juga enggak masalah,” ujarnya.
Dana Infaq untuk Sosial dan Masjid
Kunardi mengungkapkan, dana infaq yang terkumpul digunakan untuk dua program utama.
Pertama, Program PTS (Peduli Teman Sebaya), yakni bantuan sosial bagi siswa yang sakit atau keluarga siswa yang mengalami musibah meninggal dunia.
“Kami mencoba memberikan uang duka atau bantuan berobat dari infaq itu,” katanya.
Program kedua adalah pembangunan masjid. Kunardi menjelaskan bahwa SMPN 10 Tangsel sebelumnya belum memiliki sarana ibadah yang layak, sehingga pihak sekolah berinisiatif membangun masjid secara gotong royong.
“Namanya juga infaq seadanya, seikhlasnya. Jadi pembangunan masjid yang saya galakkan sejak 2024 itu baru sekitar 40 persen,” ungkapnya jujur.
Ia berharap ke depan, pembangunan masjid bisa dilanjutkan oleh Pemerintah Daerah, dan pihak sekolah telah melakukan komunikasi dengan dinas terkait.
“Kalau masjid sudah jadi, insyaallah program pembangunan masjid dari infaq ini kami cut,” tegas Kunardi.
Baca berita dan informasi menarik lainnya dari siarnitas.id di Google News

