siarnitas.id – Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus menunjukkan hasil positif dalam upaya menekan angka stunting. Berbagai program yang dijalankan secara berkelanjutan membuat jumlah balita stunting terus menurun dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (ePPGBM), hingga tahun 2026 tercatat sebanyak 878 balita mengalami stunting atau sekitar 0,78 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Tren penurunan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor dan penguatan layanan kesehatan di tingkat masyarakat mulai memberikan dampak nyata.
Penurunan kasus stunting tidak terjadi begitu saja. Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan menjalankan berbagai inovasi yang menyentuh masyarakat secara langsung, mulai dari masa remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga balita.
Salah satu program unggulan adalah Ngider Sehat Premium, yaitu layanan kunjungan rumah yang melibatkan dokter bersama tenaga kesehatan untuk memberikan pendampingan kepada ibu hamil dan balita yang mengalami masalah gizi.
Melalui layanan ini, pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan lebih cepat sehingga penanganan pun menjadi lebih optimal.
Selain itu, Dinas Kesehatan juga mengaktifkan Pos Gizi di seluruh kelurahan sebagai pusat pemantauan tumbuh kembang balita sekaligus pemberian edukasi kepada keluarga. Balita dan ibu hamil yang mengalami masalah gizi turut memperoleh Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal agar kebutuhan gizinya dapat terpenuhi.
Bagi balita yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, Pemerintah Kota Tangerang Selatan telah menyiapkan rumah sakit rujukan stunting.
Anak yang mengalami stunting, wasting maupun weight faltering akan mendapatkan pemeriksaan menyeluruh oleh dokter spesialis anak, termasuk terapi gizi dan pemberian Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) sesuai indikasi medis.
Penanganan gizi buruk juga dilakukan secara terpadu melalui Tim BerAkzi yang terdiri dari dokter, bidan atau perawat, tenaga gizi, serta petugas kesehatan lingkungan. Pendekatan multidisiplin tersebut memastikan setiap anak memperoleh pelayanan sesuai kebutuhannya.
Tidak hanya berfokus pada balita, upaya pencegahan juga dimulai sejak dini. Dinas Kesehatan mengoptimalkan kelas ibu hamil dan kelas balita agar keluarga memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kehamilan sehat, pemberian ASI, pola asuh, hingga pemenuhan gizi anak.
Sementara itu, remaja putri mendapatkan perhatian melalui program Kader Doremi Fasilasido yang melakukan skrining anemia sekaligus membagikan tablet tambah darah.
Pemeriksaan kesehatan calon pengantin, peningkatan cakupan imunisasi, pembentukan RW Bebas TBC, serta pelatihan kader kesehatan dengan 25 kompetensi juga menjadi bagian dari strategi percepatan penurunan stunting.
Program tersebut diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai perangkat daerah, mulai dari Bappelitbangda, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan, DP3AP2KB, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Perumahan dan Permukiman, Dinas Cipta Karya, Dinas Komunikasi dan Informatika, hingga Dinas Pendidikan. Sinergi ini memastikan penanganan stunting dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, Allin Hendalin Mahdaniar, menegaskan bahwa penurunan angka stunting merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak, mulai dari tenaga kesehatan, kader, pemerintah daerah, hingga keluarga.
“Penanganan stunting tidak cukup hanya dilakukan saat anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan. Pencegahan harus dimulai sejak remaja, calon pengantin, masa kehamilan, hingga seribu hari pertama kehidupan. Karena itu kami terus memperkuat layanan kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat sekaligus meningkatkan edukasi agar setiap keluarga memahami pentingnya gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak,” kata Allin dalam keterangannya pada Rabu (8/7/2026).
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk aktif memanfaatkan layanan kesehatan yang telah disediakan pemerintah.
“Kami mengimbau para orang tua agar rutin membawa balita ke Posyandu untuk memantau tinggi dan berat badan, ibu hamil melakukan pemeriksaan minimal enam kali selama kehamilan, serta calon pengantin mengikuti pemeriksaan kesehatan dan kelas pranikah. Upaya ini akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan generasi Tangerang Selatan yang sehat, cerdas, dan bebas stunting,” jelasnya.
Dinas Kesehatan juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Orang tua dianjurkan rutin mengukur tinggi dan berat badan balita, mengikuti kelas balita bersama ayah atau pengasuh, sementara ibu hamil diharapkan menjalani pemeriksaan minimal enam kali selama masa kehamilan serta mengikuti kelas ibu hamil.
Calon pengantin juga didorong menjalani pemeriksaan kesehatan dan mengikuti kelas pranikah agar memahami pentingnya pemenuhan gizi sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Di sisi lain, remaja putri diimbau rutin melakukan skrining anemia dan mengonsumsi tablet tambah darah sebagai langkah awal mencegah stunting pada generasi berikutnya.
Melalui berbagai inovasi dan kolaborasi yang terus diperkuat, Pemerintah Kota Tangerang Selatan optimistis target percepatan penurunan stunting dapat tercapai sekaligus menciptakan generasi yang lebih sehat, kuat, dan berkualitas.
Baca berita dan informasi menarik lainnya dari siarnitas.id di Google News