siarnitas.id — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencatat sebanyak 4.844 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga minggu ke-34 tahun 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, dr. Fitria Oriza mengatakan, angka tersebut merupakan jumlah kasus kumulatif yang tercatat sejak awal tahun hingga akhir minggu ke-34.
“Untuk ISPA itu sampai dengan minggu ke-34, yaitu minggu kemarin, itu ada 4.844 kasus. Tapi itu kasus kumulatif ya. Jadi dari tanggal 1 Januari sampai dengan akhir minggu kemarin itu ada 4.844 kasus. Seperti itu untuk ISPA,” ujar Fitria di DPRD Tangsel, ditulis pada Selasa (8/9/2026).
Fitria menegaskan, angka tersebut belum menunjukkan adanya peningkatan kasus ISPA secara signifikan setelah terjadinya paparan abu vulkanik.
“Untuk sampai detik ini sih kita belum ada peningkatan kasus signifikan ya untuk ISPA, masih seperti minggu-minggu sebelumnya, belum ada peningkatan,” katanya.
Menurut Fitria, ISPA tidak hanya disebabkan oleh abu vulkanik. Penyakit tersebut juga dapat dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti virus dan alergi.
“Memang infeksi saluran pernapasan atas itu bukan abu vulkanik ini bukan satu-satunya penyebab infeksi saluran pernapasan atas, karena kalau ISPA ini kan dari sebelum ada abu vulkanik juga angkanya cukup tinggi ya, karena bisa dari virus, bisa karena alergi, bisa karena lain-lain,” jelasnya.
Meski belum terjadi peningkatan signifikan, Dinkes Tangsel tetap melakukan langkah pencegahan untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
Salah satunya melalui penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi anak-anak sekolah. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi paparan abu vulkanik, khususnya saat anak melakukan perjalanan dari dan menuju sekolah.
“Jadi kita pencegahan. Jadi intinya PJJ itu adalah kita untuk pencegahan, jangan sampai nanti angka peningkatan infeksi saluran pernapasan atas itu meningkat,” ujar Fitria.
Ia juga memastikan seluruh kasus ISPA yang tercatat hingga saat ini telah mendapatkan penanganan.
“Seluruhnya sudah tertangani. Seluruhnya sudah tertangani,” tegasnya.
Fitria menambahkan, langkah pencegahan diperlukan agar paparan abu vulkanik tidak memicu peningkatan gangguan pernapasan yang lebih lanjut.
“Tapi kita meminimalisir efek akibat dari abu vulkanik ini ke pernapasan, takutnya nanti menyebabkan infeksi yang lebih lanjut seperti pneumonia dan lain-lain,” katanya.
Baca berita dan informasi menarik lainnya dari siarnitas.id di Google News