Siarnitas.id – Sebanyak 39 tim tingkat SMP hingga SMA/SMK mengikuti lomba Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) se-Jabodetabek yang digelar di SMP Negeri 10 Tangerang Selatan (Tangsel) pada Sabtu (24/10/2026).
Para peserta beradu ketangkasan baris-berbaris, kekompakan, dan kreativitas formasi dalam kompetisi yang diikuti pelajar dari berbagai daerah.
Kepala SMP Negeri 10 Tangsel, Kunardi, mengatakan kegiatan tersebut dirancang dan diselenggarakan oleh siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler Paskibra. Para siswa mempersiapkan acara itu selama beberapa bulan sebelum akhirnya terlaksana.
“Kebetulan hari ini di SMP 10 itu sedang menyelenggarakan gelaran lomba Paskibra tingkat SMP-SMA se-Jabodetabek yang dilaksanakan dan diselenggarakan oleh anak-anak ekstrakulikuler Paskibra yang ada di kita di SMP 10, dan kegiatan ini sudah dirancang berbulan-bulan yang lalu dan baru terlaksana hari ini,” kata Kunardi kepada awak media di SMPN 10 Tangsel.
Menurut Kunardi, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan yang tidak hanya berkaitan dengan pelajaran di kelas. Ia menilai para pelajar memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler, termasuk kemampuan mengelola acara dan menjalin hubungan dengan sekolah lain.
“Saya ingin menunjukkan dan ingin menegaskan bahwa anak-anak kita banyak memiliki talenta yang luar biasa, bahkan sekelas anak SMP saja sudah bisa menyelenggarakan gelaran Lomba Paskibra setingkat se-Jabodetabek,” ujarnya.
Ia menegaskan, pendidikan tidak hanya berfokus pada kecerdasan akademik. Siswa juga perlu memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan nonakademik melalui pengalaman langsung, termasuk mengatur kegiatan dan bekerja sama dalam sebuah kepanitiaan.
“Kecerdasan itu kan bukan hanya kecerdasan akademik, tapi juga kecerdasan non-akademik,” kata Kunardi.
Selain mengasah keterampilan, Kunardi menyoroti kemampuan siswa membangun komunikasi dengan sekolah lain. Ia juga melihat adanya unsur kewirausahaan dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut, karena para siswa harus mengatur dan menjalankan acara yang melibatkan puluhan tim.
“Bisa membangun komunikasi dengan sekolah-sekolah yang lain, itu juga bagian dari upaya kecerdasan yang luar biasa, entrepreneurship-nya kan luar biasa ini, ternyata anak-anak kita juga mampu,” tuturnya.
Kunardi turut menyinggung pandangan negatif yang terkadang muncul terhadap perilaku anak muda. Menurutnya, masih banyak pelajar yang mempunyai talenta dan mampu menghasilkan kegiatan positif.
“Di sisi lain sedang terjadi dinamika yang mungkin dianggap negatif yang terjadi di luar oleh anak-anak kita. Tapi sebenarnya jauh lebih besar, lebih banyak dari mereka itu yang memiliki talenta-talenta yang luar biasa,” ujarnya.
Ia menambahkan, kepanitiaan lomba melibatkan siswa kelas VII, VIII, dan IX. Siswa kelas IX menjadi koordinator, sedangkan adik-adik kelas mereka ikut mengambil bagian dalam pelaksanaan kegiatan.
“Kegiatan ini panitianya adalah anak-anak Paskibra yang di dalamnya ada kelas 7, kelas 8, kelas 9. Walaupun tetap koordinatornya anak-anak kelas 9. Ini membuktikan bahwa banyak anak-anak kita yang juga mengajak, melibatkan adik-adik kelasnya untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya positif, bukan hanya yang negatif,” kata Kunardi.
Sementara itu, Ketua Panitia, Jonathan Mario Gomez, mengatakan lomba tersebut diikuti 27 tim tingkat SMP dan 12 tim tingkat SMA/SMK. Peserta berasal dari sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang.
“Untuk kegiatan ini tuh ada 39 peserta. Jadi kita ada dua tingkatan, dari SMP itu 27 peserta dan SMA/SMK itu 12 peserta,” kata Jonathan.
Jonathan menjelaskan, jumlah pendaftar sempat mencapai sekitar 40 tim. Namun, hingga pelaksanaan, panitia memastikan 39 peserta yang keikutsertaannya telah jelas.
Panitia memulai registrasi peserta sejak pukul 03.00 WIB. Kegiatan berlanjut dengan apel pembukaan pada pukul 07.00 WIB, kemudian pengarahan teknis dari perwakilan pelatih sebelum peserta tampil sesuai nomor urut.
Untuk menilai penampilan peserta, panitia menghadirkan lima juri profesional dari Garuda Permildas. Tiga juri menilai aspek Peraturan Baris-Berbaris (PBB), satu juri menilai variasi formasi, dan satu juri lainnya menilai tata rias serta kostum.
Jonathan memperkirakan seluruh rangkaian lomba selesai sekitar pukul 14.00 hingga 15.00 WIB, dilanjutkan dengan pembagian hadiah kepada para pemenang.
Kompetisi ini menjadi ajang bagi para pelajar untuk menunjukkan keterampilan baris-berbaris sekaligus memberi kesempatan kepada siswa SMPN 10 Tangsel untuk terlibat langsung dalam pengelolaan kegiatan berskala Jabodetabek.
Baca berita dan informasi menarik lainnya dari siarnitas.id di Google News