siarnitas.id – Ahmad Yusuf, petugas operasional Water Treatment Plant (WTP) Perumahan Serpong Lagoon, mengakui pengolahan air di tempatnya bekerja menghadapi berbagai masalah. Pengakuan ini mencuat di tengah kasus muntaber yang menimpa 146 warga Serpong Lagoon dan sorotan terhadap kualitas air yang mereka gunakan sehari-hari.
Hal itu disampaikan Yusuf dalam pertemuan dengan warga Serpong Lagoon yang dihadiri Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Pilar Saga Ichsan bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di Sport Center Serpong Lagoon, Kamis (15/10/2026).
Sebelumnya, dalam rapat dengar pendapat (RDP) DPRD Kota Tangerang Selatan, hasil pemeriksaan sampel air dilaporkan menemukan bakteri E. coli. Kadar bakteri pada sampel air warga disebut mencapai 600 hingga 900, sedangkan sampel reservoir WTP berada pada angka 14 hingga 18.
Yusuf mengungkapkan, persoalan kualitas air sudah terjadi sejak dirinya bekerja di WTP. Ia menceritakan bahwa air yang disalurkan kepada warga pernah berwarna kuning akibat tingginya kandungan besi.
“Selama saya di WTP, itu memang banyak masalah. Pertama itu dulu itu kuning ya, besinya tinggi. Bahkan sampai kamar mandi warga itu kuning, sampai komplain, bahkan sampai nyamperin saya, bahkan sampai aduh sampai teriak-teriak ya, saya hanya bisa ya tuh mohon maaf,” kata Yusuf.
Sebagai petugas operasional, Yusuf mengaku tetap melayani keluhan warga di luar jam kerja. Ia bahkan bersedia mendatangi rumah warga ketika menerima laporan gangguan pasokan air pada malam hari.
“Dan saya pun kerja di WTP meskipun jam kerja 8 jam, tapi saya kalau melayani warga itu hampir 24 jam,” ujarnya.
Yusuf juga menjelaskan bahwa WTP pernah melakukan pengeboran empat sumur untuk mengantisipasi kekurangan air saat musim kemarau. Upaya tersebut dilakukan pada 2019 setelah muncul persoalan pasokan air.
Selain itu, pengelola menambah reservoir untuk memaksimalkan proses pengolahan air. Pembangunan dimulai pada 2024, tetapi baru selesai pada 2025 karena terkendala biaya.
“Jadi kalau kapasitas reservoir kita terlalu kecil, otomatis waktu maintenance terlalu pendek. Jadi kurang maksimal sehingga kita ada penambahan reservoir,” kata Yusuf.
Memasuki 2026, ia menilai musim kemarau kembali menjadi tantangan karena sumber air baku WTP berasal dari danau. Menurutnya, kondisi air yang terpapar panas matahari dapat mempersulit proses pengolahan.
Yusuf juga menyoroti kemungkinan persoalan pada jaringan pipa yang perlu diperiksa lebih lanjut.
“Nah, saya di sini sebagai operasional, eh saya untuk ke depan, untuk jangka pendeknya, mungkin ini ada kemungkinan problem masalah terbesarnya selain air dan air baku, mungkin ada di jaringan,” ujarnya.
Ia menyebut penggelontoran atau flushing dapat menjadi salah satu upaya untuk membersihkan endapan di dalam pipa. Namun, penyebab kasus muntaber dan kaitannya dengan kualitas air WTP tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan serta penyelidikan lebih lanjut.
Baca berita dan informasi menarik lainnya dari siarnitas.id di Google News